Universitas Muhammadiyah Purworejo

Berita LP3AK

Lembaga Pengkajian, Pendalaman, Pengamalan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Home / Detail

Sudahkah Pekerjaan Kita Bernilai Ibadah?

Purworejo — Bekerja bukan semata-mata aktivitas untuk memperoleh penghasilan, melainkan juga bentuk ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT apabila dilandasi niat yang benar serta dilaksanakan dengan cara yang baik. Pesan tersebut disampaikan oleh H. Nasrudin, M.S.I. dalam khutbah Jumat di Masjid Universitas Muhammadiyah Purworejo, Jumat (23/10/2026).

Dalam khutbahnya, khatib mengajak jamaah untuk merenungkan kembali hakikat bekerja dalam perspektif Islam. Setiap hari, seseorang menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk menjalankan pekerjaan, bahkan harus menghadapi berbagai tantangan dan risiko. Oleh karena itu, bekerja seharusnya tidak hanya berorientasi pada penghasilan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperoleh keberkahan dan rida Allah SWT.

Islam mengajarkan bahwa pekerjaan dapat bernilai ibadah ketika dilakukan dengan niat yang ikhlas, proses yang benar, serta sikap yang baik dalam menerima hasilnya. Bekerja bukan sekadar upaya memenuhi kebutuhan hidup, melainkan juga bagian dari pelaksanaan amanah manusia sebagai hamba Allah (abdullah) dan khalifah di bumi.

Khatib menjelaskan tiga hal penting yang perlu diperhatikan agar pekerjaan bernilai ibadah.

Pertama, meluruskan niat. Setiap pekerjaan hendaknya diawali dengan niat untuk mencari rida Allah SWT. Dengan niat yang benar, aktivitas sehari-hari yang tampak biasa dapat bernilai ibadah dan menjadi jalan untuk memperoleh pahala.

Kedua, menjalankan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Niat yang baik harus diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti bekerja secara profesional, jujur, bertanggung jawab, dan bersungguh-sungguh. Setiap amanah yang diberikan hendaknya dilaksanakan dengan penuh kesadaran bahwa pekerjaan merupakan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan.

Ketiga, mensyukuri hasil pekerjaan. Penghasilan yang diperoleh hendaknya disikapi dengan rasa syukur dan tidak menjadikan seseorang hanya berorientasi pada besarnya materi. Setiap rezeki yang diterima perlu dimanfaatkan secara bijaksana serta diiringi keyakinan bahwa Allah SWT telah mengatur rezeki bagi hamba-Nya.

Lebih lanjut, khatib menegaskan bahwa bekerja dengan niat yang ikhlas dan cara yang benar akan memberikan nilai lebih dari sekadar keuntungan materi. Pekerjaan dapat menjadi sarana untuk menebar manfaat, menunaikan tanggung jawab, dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Pesan utama khutbah tersebut tercermin dalam ajakan untuk memandang waktu bekerja sebagai kesempatan beribadah dan beramal saleh. Sebagaimana disampaikan dalam khutbah, delapan jam sehari yang digunakan untuk bekerja dapat menjadi delapan jam beribadah dan beramal saleh, selama pekerjaan tersebut dilandasi niat yang benar dan dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Islam.

Melalui khutbah Jumat ini, jamaah diingatkan untuk senantiasa memperbaiki niat, meningkatkan kualitas kerja, menjaga integritas, serta mensyukuri setiap rezeki yang diperoleh. Nilai-nilai tersebut relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab di lingkungan perguruan tinggi.

Pada akhirnya, keberhasilan dalam bekerja tidak hanya diukur dari besarnya penghasilan atau pencapaian duniawi, tetapi juga dari keberkahan, kejujuran, dan manfaat yang dihasilkan. Dengan menjadikan pekerjaan sebagai ladang ibadah, setiap langkah dan pengabdian diharapkan menjadi amal saleh yang mengantarkan pada rida Allah SWT. (Frh)