Universitas Muhammadiyah Purworejo

Berita LP3AK

Lembaga Pengkajian, Pendalaman, Pengamalan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Home / Detail

Rezeki Halal Hingga Manisnya Ibadah, Empat Tanda Kehidupan Bah

Purworejo — Kebahagiaan dalam Islam tidak selalu identik dengan banyaknya harta, tingginya jabatan, atau terpenuhinya segala keinginan duniawi. Kebahagiaan yang sesungguhnya justru hadir ketika seorang muslim memperoleh rezeki yang halal, memiliki hati yang qanaah, mendapatkan pertolongan Allah untuk senantiasa taat, serta mampu merasakan manisnya ibadah. Pesan tersebut disampaikan Dr. H. Iyus Herdiana Saputra, M.S.I. dalam khutbah Jumat di Masjid Universitas Muhammadiyah Purworejo, Jumat (25/9/2026).

Di hadapan jamaah, Dr. H. Iyus Herdiana Saputra mengajak umat untuk kembali memahami makna kehidupan yang bahagia berdasarkan tuntunan Islam. Kebahagiaan tidak semata-mata diukur dari pencapaian yang terlihat secara lahiriah, tetapi juga dari keberkahan rezeki, ketenangan hati, serta kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT.

Mengutip penjelasan para ulama, salah satunya Imam al-Qurtubi dalam Tafsir al-Qurtubi, disampaikan empat tanda kehidupan yang bahagia. Pertama, rezeki yang halal (ar-Rizqu al-Halal). Rezeki yang diperoleh dengan cara halal akan membawa keberkahan dalam kehidupan dan keluarga. Meskipun secara perhitungan manusia jumlahnya tampak terbatas, keberkahan dari Allah SWT dapat menjadikannya cukup.

Kedua, sifat qanaah (al-Qana'ah), yaitu sikap merasa ridha dan cukup atas pemberian Allah SWT. Qanaah bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menerima ketentuan Allah dengan penuh rasa syukur. Dalam khutbahnya juga disampaikan pentingnya melihat orang yang berada di bawah dalam urusan dunia agar seseorang tidak meremehkan nikmat yang telah Allah berikan.

Ketiga, mendapatkan pertolongan Allah untuk taat (taufiquhu ilat-tha'ah). Salah satu bentuk kebahagiaan adalah ketika seseorang mendapatkan hidayah dan kemudahan dari Allah SWT untuk terus melakukan kebaikan, menuntut ilmu, memakmurkan masjid, serta menjalankan berbagai bentuk ibadah dan ketaatan.

Keempat, merasakan manisnya ibadah (halawatut-tha'ah). Kebahagiaan seorang mukmin tercermin ketika ia dapat merasakan kenikmatan, kelezatan, dan ketenangan dalam menjalankan ibadah. Rasa tersebut dapat hadir dalam berbagai bentuk ibadah, seperti salat, ruku, sujud, bersedekah, dan melakukan amal saleh.

Dalam khutbahnya, Dr. H. Iyus Herdiana Saputra juga mengingatkan jamaah melalui firman Allah SWT dalam QS. An-Nahl ayat 97 bahwa orang yang mengerjakan kebajikan dalam keadaan beriman akan diberikan kehidupan yang baik. Selain itu, QS. Muhammad ayat 7 mengajarkan bahwa pertolongan Allah akan diberikan kepada orang-orang yang menolong agama-Nya.

Khutbah juga mengutip hadis Rasulullah SAW tentang keberuntungan orang yang mendapatkan kecukupan rezeki dan diberikan sifat qanaah oleh Allah SWT. Hadis lainnya mengajarkan agar seorang muslim melihat orang yang berada di bawahnya dalam urusan dunia, sehingga tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya.

Melalui khutbah tersebut, jamaah diajak untuk melihat kembali ukuran kebahagiaan dalam kehidupan. Kebahagiaan bukan sekadar tentang apa yang berhasil dikumpulkan, tetapi tentang bagaimana rezeki diperoleh, bagaimana hati menerima pemberian Allah, serta sejauh mana kehidupan membawa seseorang semakin dekat kepada-Nya.

Pesan khutbah tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan yang bahagia dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana: memastikan rezeki tetap halal, menumbuhkan rasa cukup dan syukur, memohon pertolongan Allah agar istiqamah dalam ketaatan, serta menghadirkan hati dalam setiap ibadah. Dengan demikian, kebahagiaan tidak hanya dirasakan dalam kehidupan dunia, tetapi menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik di hadapan Allah SWT. (Frh)