Universitas Muhammadiyah Purworejo

Berita LP3AK

Lembaga Pengkajian, Pendalaman, Pengamalan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Home / Detail

Merawat Ukhuwah Dalam Perbedaan, H. Nasrudin, M.S.I. Sampaikan Pesan Toleransi

Purworejo — Masjid Kampus Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) kembali menjadi tempat pelaksanaan Salat Jumat pada Jumat (18/09/2026). Bertindak sebagai khatib, H. Nasrudin, M.S.I. menyampaikan khotbah mengenai pentingnya membangun sikap toleran dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan pemahaman keagamaan di tengah kehidupan umat Islam.

Dalam khotbahnya, H. Nasrudin, M.S.I. mengawali pembahasan dengan mengangkat keragaman pandangan umat Islam dalam menyikapi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, terdapat berbagai pandangan mengenai hukum memperingati Maulid Nabi, di antaranya yang memandangnya sebagai sunnah, mubah, maupun bid'ah.

Keragaman pandangan tersebut merupakan bagian dari dinamika pemahaman keagamaan yang lahir dari proses ijtihad. Oleh karena itu, perbedaan dalam persoalan yang bersifat khilafiyah perlu disikapi dengan kedewasaan, saling menghormati, dan tetap menjaga ukhuwah Islamiyah.

“Apapun pilihan kita silakan, sesuai dengan keyakinan masing-masing. Yang tidak perlu kita lakukan adalah, kalau menyatakan sunnah tidak usah memaksa orang lain. Demikian juga yang menyatakan bid'ah, tidak usah melarang-larang orang yang melaksanakan. Inilah toleransi, inilah menghormati pendapat orang.”

Memahami Keteladanan Nabi Muhammad SAW

Lebih lanjut, H. Nasrudin menyampaikan pandangan Prof. Yunahar Ilyas mengenai tiga sisi dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW, yaitu Rasulullah sebagai manusia, sebagai orang Arab, dan sebagai Nabi atau Rasul.

Pemahaman tersebut dapat menjadi landasan dalam melihat bentuk keteladanan terhadap Rasulullah SAW. Dalam praktiknya, terdapat perbedaan cara umat Islam dalam mengekspresikan kecintaan dan keteladanan kepada Nabi. Sebagian mengikuti aspek-aspek kebiasaan dan penampilan Rasulullah, sedangkan sebagian lainnya lebih menitikberatkan pada nilai, substansi, dan tuntunan yang beliau ajarkan.

Perbedaan tersebut hendaknya ditempatkan secara proporsional dengan tetap memperhatikan nilai dan tujuan dari keteladanan itu sendiri.

“Tetapi jangan salahkan yang tidak pakai jubah, karena intinya bukan di jubah atau tidak, tetapi di menutup aurat atau tidak.”

Menempatkan Perbedaan dalam Wilayah Ijtihad

Dalam bagian lain khotbah, H. Nasrudin mengutip pandangan Prof. Dadang Kahmad mengenai kedudukan sumber ajaran Islam dan hasil pemahaman manusia terhadapnya. Al-Qur'an dan hadis memiliki kedudukan sebagai sumber utama ajaran Islam, sedangkan terjemahan, tafsir, dan berbagai pemikiran keagamaan merupakan hasil pemahaman manusia yang memungkinkan adanya perbedaan.

Karena itu, perbedaan penafsiran dan pemahaman dalam persoalan tertentu merupakan sesuatu yang perlu disikapi secara bijaksana. Setiap pendapat dapat diyakini oleh seseorang berdasarkan dasar dan pemahaman yang dimilikinya, tanpa harus meniadakan penghormatan terhadap pendapat yang berbeda.

“Al-Qur'an pasti benar, Hadis pasti benar, tetapi terjemah Al-Qur'an tidak pasti benar, tafsir Al-Qur'an tidak pasti benar, karena tafsir adalah pemikiran manusia.”

Memperkuat Toleransi dan Ukhuwah Islamiyah

Menutup khotbahnya, H. Nasrudin mengajak jamaah untuk senantiasa mengedepankan sikap toleran dalam menyikapi perbedaan pendapat. Keyakinan terhadap suatu pemahaman tidak semestinya menjadi penghalang untuk menghargai pihak lain yang memiliki pandangan berbeda, khususnya dalam persoalan yang berada pada ranah khilafiyah dan ijtihad.

Sikap saling menghormati diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ukhuwah Islamiyah serta membangun kehidupan keagamaan yang harmonis di tengah keberagaman pemahaman umat.

“Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang toleran terhadap pendapat orang lain. Yakinlah pendapat kita benar, tapi tidak usah menyalahkan pendapat orang lain.”

Melalui khotbah tersebut, jamaah diajak untuk memaknai perbedaan secara lebih dewasa, dengan mengedepankan ilmu, adab, toleransi, dan semangat persaudaraan dalam menjalankan kehidupan beragama. (Frh)