Purworejo – Kualitas keimanan seorang muslim tidak hanya tercermin dari ibadah yang dilaksanakan, tetapi juga dari kemampuan mengendalikan hawa nafsu, menjaga akhlak, serta menebarkan kebaikan kepada sesama. Pesan inilah yang menjadi salah satu pokok pembahasan dalam khutbah Jumat yang disampaikan oleh Dr. Hermawan, M.Pd.I., di Masjid Universitas Muhammadiyah Purworejo, Jumat (9/10/2026).
Dalam khutbahnya, khatib mengangkat hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab r.a. dan dicantumkan dalam Al-Mu'jam Al-Awsath karya Imam Ath-Thabrani. Hadis tersebut memuat empat pesan penting bagi kehidupan seorang muslim, yaitu tiga perkara yang membinasakan, tiga perkara yang menyelamatkan, tiga perkara yang menghapuskan dosa, dan tiga perkara yang mengangkat derajat di sisi Allah SWT.
Menjauhi Tiga Perkara yang Membinasakan
Khatib mengingatkan bahwa setiap muslim perlu membersihkan diri dari sifat-sifat tercela yang dapat merusak keimanan dan hubungan antarmanusia. Terdapat tiga sifat yang harus dihindari, yakni sikap kikir yang diperturutkan, hawa nafsu yang tidak terkendali, serta kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri.
Sikap kikir tidak hanya berkaitan dengan harta, tetapi juga dapat tercermin dalam keengganan berbagi ilmu dan memberikan manfaat kepada orang lain. Sementara itu, mengikuti hawa nafsu tanpa mempertimbangkan tuntunan agama dapat menjauhkan seseorang dari kebenaran. Adapun kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri dapat menumbuhkan kesombongan dan membuat seseorang sulit menerima nasihat.
Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa melakukan introspeksi diri, memperbaiki niat, dan membiasakan sikap rendah hati dalam menjalani kehidupan.
Mengamalkan Tiga Perkara yang Menyelamatkan
Selain menjauhi sifat tercela, khatib menjelaskan tiga karakter utama yang dapat menjadi jalan keselamatan bagi seorang mukmin, yaitu berlaku adil, bersikap sederhana, dan memiliki rasa takut kepada Allah SWT.
Keadilan harus tetap ditegakkan, baik ketika seseorang sedang marah maupun ketika berada dalam keadaan senang. Perasaan pribadi tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kebenaran atau memperlakukan orang lain secara tidak adil.
Sikap sederhana juga perlu dipertahankan dalam berbagai keadaan, baik ketika berada dalam keterbatasan maupun ketika memperoleh kelapangan rezeki. Seseorang hendaknya mampu mengendalikan diri, tidak berlebihan, dan menggunakan nikmat yang dimiliki secara bijaksana.
Selanjutnya, rasa takut kepada Allah SWT harus senantiasa tertanam dalam hati, baik ketika berada sendirian maupun di tengah masyarakat. Kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui segala perbuatan diharapkan mampu mendorong seorang muslim untuk menjaga kejujuran, keikhlasan, dan tanggung jawab.
Tiga Amalan yang Menghapuskan Dosa
Dalam khutbah tersebut, khatib juga menyampaikan tiga amalan yang dapat menjadi sebab terhapusnya dosa dan peningkatan kualitas ibadah seorang muslim.
Ketiga amalan tersebut adalah menantikan waktu salat setelah menunaikan salat sebelumnya, menyempurnakan wudu meskipun dalam keadaan sulit, serta memperbanyak langkah menuju masjid untuk melaksanakan salat berjemaah.
Amalan-amalan tersebut mengajarkan pentingnya menjaga konsistensi dalam beribadah. Menunggu waktu salat bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan juga mencerminkan kerinduan seorang hamba untuk kembali menghadap Allah SWT.
Demikian pula, menyempurnakan wudu dan membiasakan diri melaksanakan salat berjemaah merupakan bentuk kesungguhan dalam menjalankan perintah agama. Melalui kebiasaan tersebut, seorang muslim dilatih untuk menjaga kedisiplinan, kesabaran, dan kedekatan spiritual dengan Allah SWT.
Meningkatkan Derajat dengan Menebarkan Kebaikan
Pada bagian berikutnya, khatib menjelaskan tiga amalan yang dapat mengangkat derajat seorang mukmin, yakni memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan, menyebarkan salam, dan melaksanakan salat malam ketika kebanyakan orang sedang beristirahat.
Memberikan makanan merupakan wujud kepedulian sosial dan kesediaan berbagi rezeki dengan sesama. Amalan ini mengajarkan bahwa keberagamaan tidak hanya diwujudkan melalui hubungan vertikal dengan Allah SWT, tetapi juga melalui kepedulian terhadap kondisi orang-orang di sekitar.
Menyebarkan salam menjadi bentuk sederhana dalam membangun persaudaraan, mempererat hubungan sosial, dan menumbuhkan suasana damai di tengah masyarakat. Sementara itu, salat malam mencerminkan kesungguhan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ibadah yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan.
Ketiga amalan tersebut menunjukkan bahwa kemuliaan seorang muslim tidak semata-mata diukur dari kedudukan, kekayaan, atau pengakuan manusia, tetapi juga dari ketulusan beribadah dan manfaat yang diberikan kepada sesama.
Menjadikan Pesan Khutbah sebagai Pedoman Kehidupan
Menutup khutbahnya, Dr. Hermawan, M.Pd.I., mengajak jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjauhi sifat-sifat tercela, membiasakan perilaku terpuji, menjaga kualitas ibadah, serta memperbanyak amal kebaikan.
Pesan khutbah tersebut menjadi pengingat bahwa keselamatan dan kemuliaan hidup perlu diupayakan melalui keseimbangan antara pembinaan akhlak, kedisiplinan beribadah, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut hendaknya tidak berhenti sebagai pengetahuan yang didengar dalam khutbah, tetapi diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, kampus, maupun masyarakat.
Melalui kegiatan khutbah Jumat di Masjid Universitas Muhammadiyah Purworejo, diharapkan jamaah semakin terdorong untuk memperkuat keimanan, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, nilai-nilai Islam dapat terus hadir sebagai pedoman dalam membangun pribadi yang bertakwa serta kehidupan masyarakat yang harmonis dan berkemajuan. (Frh)