Purworejo – Lembaga Pengkajian, Pendalaman, Pengamalan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LP3AK) Universitas Muhammadiyah Purworejo menyelenggarakan Kajian Jumat Bulanan pada Jumat (4/9/2026) bertempat di Ruang Seminar Timur Universitas Muhammadiyah Purworejo. Kajian menghadirkan Ust. Dr. Waluyo, Lc., M.A., selaku Wakil Sekretaris I Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dengan mengangkat pembahasan mengenai Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM) serta relevansinya bagi gerakan Muhammadiyah saat ini.
Dalam kajian tersebut, Ust. Dr. Waluyo menjelaskan bahwa Muhammadiyah dapat berkembang menjadi organisasi besar dengan berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), mulai dari lembaga pendidikan hingga layanan kesehatan, karena memiliki landasan keyakinan dan cita-cita hidup yang kuat.
“Muhammadiyah itu besar seperti ini karena punya keyakinan... Dan punya cita-cita. Lha nek ora duwe keyakinan, tidak punya cita-cita, ya gak bakal maju.”
Menurutnya, keberadaan berbagai AUM, termasuk rumah sakit PKU/Aisyiyah dan perguruan tinggi seperti Universitas Muhammadiyah Purworejo, merupakan hasil dari komitmen, keyakinan, dan cita-cita para pengurus serta warga persyarikatan. Keyakinan tersebut menjadi energi yang mendorong Muhammadiyah untuk terus bergerak dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Amar Ma’ruf Nahi Munkar melalui Aksi Nyata
Pembahasan kemudian dikaitkan dengan firman Allah SWT dalam QS. Ali 'Imran ayat 110:
“Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnasi ta'muruna bil ma'rufi wa tanhawna 'anil munkar...”
Ayat tersebut menjadi salah satu landasan penting dalam memahami posisi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah. Ust. Dr. Waluyo menjelaskan bahwa Muhammadiyah memahami konsep al-amru bil ma'ruf wa nahyu 'anil munkar dalam perspektif yang luas.
Dakwah tidak hanya dilakukan melalui penyampaian secara lisan (bil lisan) maupun tindakan langsung, tetapi juga diwujudkan melalui aksi nyata (bil hal). Pendirian sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan berbagai amal usaha lainnya menjadi bentuk konkret dakwah Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus memberikan pemberdayaan kepada masyarakat.
Keberadaan AUM juga memiliki dampak sosial yang lebih luas, antara lain membuka akses pendidikan dan kesehatan serta memberikan ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan. Dengan demikian, dakwah diwujudkan dalam bentuk amal yang memberikan manfaat secara langsung bagi kehidupan masyarakat.
Berdakwah dengan Rendah Hati
Selain membahas perkembangan dan kontribusi Muhammadiyah, kajian juga memberikan pesan penting mengenai sikap warga Muhammadiyah dalam berdakwah. Ust. Dr. Waluyo mengingatkan agar Muhammadiyah tidak membangun sikap merasa paling baik dibandingkan kelompok lain.
“Muhammadiyah tidak perlu mengklaim diri sebagai yang paling baik. Dalam berdakwah, kita perlu mengedepankan sikap rendah hati, menghargai perbedaan, serta menghindari tindakan yang dapat merendahkan atau menyalahkan pihak lain. Muhammadiyah senantiasa mengajarkan dakwah yang berkemajuan, santun, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.”
Ia menegaskan bahwa penilaian terbaik pada akhirnya merupakan hak Allah SWT. Karena itu, warga Muhammadiyah perlu terus berjuang, beribadah, dan memperbanyak amal saleh tanpa harus merasa lebih unggul daripada orang lain.
Sikap rendah hati dalam berdakwah menjadi bagian penting agar gerakan dakwah tetap menghadirkan kesejukan, persaudaraan, dan kemanfaatan di tengah masyarakat.
Tauhid sebagai Fondasi MKCHM
Lebih lanjut, Ust. Dr. Waluyo menegaskan bahwa tauhid merupakan dasar utama dalam Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah. Keyakinan kepada Allah SWT menjadi fondasi yang mengarahkan seluruh aktivitas warga dan gerakan Muhammadiyah.
“Di Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup itu dasar utama tentu tauhid. Jadi Muhammadiyah... selalu mengajarkan tauhid. Tauhid itu kan intinya Qul huwallahu ahad.”
Menurutnya, penguatan tauhid tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan dan pengembangan keilmuan di lingkungan Muhammadiyah. Nilai-nilai tauhid diajarkan di berbagai jenjang pendidikan dan menjadi dasar dalam pelaksanaan dakwah serta pengelolaan amal usaha Muhammadiyah.
Melalui kajian tersebut, sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Purworejo diajak untuk kembali memahami bahwa besarnya Muhammadiyah tidak terlepas dari keyakinan tauhid dan cita-cita hidup yang menjadi dasar perjuangan. Keyakinan tersebut kemudian diwujudkan dalam amal nyata yang memberikan manfaat bagi umat dan bangsa.
Kajian Jumat Bulanan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman sivitas akademika terhadap nilai-nilai Kemuhammadiyahan sekaligus menumbuhkan semangat untuk terus berkontribusi melalui ilmu, amal, dan dakwah yang berkemajuan. (Frh)