Purworejo – Lembaga Pengkajian, Pendalaman, Pengamalan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LP3AK) Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) kembali menyelenggarakan Khotbah Jumat pada Jumat (7/8/2026). Kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan UMPWR tersebut menghadirkan Nif'an Nazudi, M.Ag. sebagai khatib dengan mengangkat tema “Sebuah Bangsa Dianggap Ada, Jika Masih Memiliki Akhlak.”
Dalam khotbahnya, Nif'an Nazudi, M.Ag. mengajak jemaah untuk merefleksikan kondisi moral dan akhlak bangsa. Menurutnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya dapat dilihat dari pembangunan fisik, kekayaan sumber daya alam, maupun perkembangan teknologi, tetapi juga dari kualitas moral dan akhlak masyarakatnya.
"Sebuah bangsa dianggap masih ada jika masih memiliki akhlak," tegas Nif'an Nazudi.
Mengawali khotbah, khatib mengingatkan jemaah mengenai pentingnya memenuhi rukun-rukun khotbah Jumat, di antaranya membaca hamdalah, syahadat, shalawat, ayat Al-Qur'an, wasiat takwa, dan doa. Jemaah juga diingatkan untuk menjaga adab selama khotbah berlangsung, termasuk tidak berbicara ketika khatib sedang menyampaikan khotbah.
Memasuki pembahasan utama, khatib menyoroti berbagai fenomena sosial yang menunjukkan adanya krisis moral di tengah masyarakat. Persoalan pelayanan publik, korupsi, penyalahgunaan wewenang, hingga minimnya keteladanan dari sebagian pemegang jabatan menjadi perhatian dalam khotbah tersebut.
Khatib mencontohkan persoalan dalam pelayanan kesehatan yang menunjukkan masih adanya perilaku tidak berempati terhadap masyarakat. Menurutnya, pendidikan dan gelar yang tinggi semestinya diiringi dengan akhlak, kepedulian, dan rasa kemanusiaan yang tinggi.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan bangsa tidak cukup hanya berorientasi pada kemajuan fisik dan materi. Pembangunan moral dan mental juga harus mendapatkan perhatian yang serius.
"Kita ini hanya membanggakan masalah-masalah yang bersifat fisik dan materi, tetapi dalam urusan moral dan mental, bangsa ini seolah tidak pernah tersentuh," ujarnya.
Khatib juga menyoroti persoalan korupsi dan penyalahgunaan wewenang yang melibatkan berbagai kalangan. Menurutnya, pejabat publik maupun siapa pun yang mendapatkan amanah seharusnya mampu menjadi teladan bagi masyarakat, bukan justru memberikan contoh yang merusak kepercayaan publik.
"Jangan sampai setiap hari rakyat hanya disuguhkan dengan berita-berita dan contoh dari pejabat yang tidak bisa diteladani," ungkapnya.
Dalam perspektif Islam, khatib menegaskan bahwa akhlak merupakan bagian penting dari ajaran agama. Ia mengutip hadis Rasulullah SAW, “Innamā bu‘itstu li utammima makārimal akhlāq”, yang berarti bahwa Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Akhlak yang baik, lanjutnya, tidak hanya menjadi ukuran dalam hubungan antarmanusia, tetapi juga menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang muslim. Karena itu, gelar akademik maupun gelar keagamaan harus diiringi dengan akhlak yang luhur.
"Gelar agama maupun gelar akademik sama saja. Gelar boleh setinggi langit, tetapi akhlaknya pun harus setinggi langit, jangan sampai akhlaknya ada di dasar sumur," tegasnya.
Khatib juga mengingatkan bahwa perbaikan moral bangsa harus dimulai dari diri sendiri. Selanjutnya, nilai-nilai akhlak perlu ditanamkan dalam keluarga, lembaga pendidikan, lingkungan masyarakat, hingga kehidupan pemerintahan. Para pemegang amanah memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan keteladanan atau uswah hasanah bagi masyarakat.
Melalui Khotbah Jumat tersebut, LP3AK UMPWR terus mendorong penguatan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di lingkungan universitas. Tema yang disampaikan menjadi pengingat bagi seluruh jemaah bahwa kemajuan bangsa harus berjalan beriringan dengan pembangunan karakter, moral, dan akhlak.
Sebab, sebagaimana pesan utama dalam khotbah tersebut, sebuah bangsa bukan hanya dinilai dari seberapa maju pembangunan fisiknya, tetapi juga dari seberapa kuat akhlak yang dimiliki masyarakatnya. (Frh)