Universitas Muhammadiyah Purworejo

Berita LP3AK

Lembaga Pengkajian, Pendalaman, Pengamalan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Home / Detail

Khotbah Jumat Ingatkan Jemaah: Kenikmatan Dunia Juga Merupakan Ujian

Purworejo – Lembaga Pengkajian, Pendalaman, Pengamalan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LP3AK) Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) kembali menyelenggarakan Khotbah Jumat pada Jumat (14/8/2026). Kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan UMPWR tersebut menghadirkan H. Nasrudin, M.S.I. sebagai khatib dengan mengangkat tema tentang mengesakan Allah dan hakikat ujian dunia.

Dalam khotbahnya, H. Nasrudin, M.S.I. menegaskan bahwa ujian dari Allah SWT tidak hanya berbentuk kesulitan, kesedihan, dan musibah, tetapi juga dapat hadir melalui berbagai kenikmatan, seperti harta, kekuasaan, jabatan, dan kesenangan duniawi. Kenikmatan tersebut dapat menjadi ujian yang berbahaya ketika manusia tidak menyadari bahwa semua yang dimilikinya merupakan pemberian sekaligus ujian dari Allah SWT.

Mengawali khotbah, khatib mengingatkan jemaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan dengan menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Khatib juga menekankan pentingnya tauhid, yaitu mengesakan Allah SWT sebagai satu-satunya Zat yang berhak disembah. Islam mengajarkan bahwa penghambaan hanya ditujukan kepada Allah SWT, bukan kepada makhluk, baik malaikat maupun para rasul yang dekat dengan-Nya.

Khatib juga mengingatkan jemaah mengenai pentingnya menjaga perhatian dan adab selama pelaksanaan salat Jumat, khususnya ketika khotbah berlangsung. Allah SWT memerintahkan kaum beriman untuk meninggalkan aktivitas jual beli ketika seruan salat Jumat telah dikumandangkan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Jumu'ah ayat 9.

Menurut H. Nasrudin, M.S.I., jika aktivitas yang produktif seperti jual beli saja wajib ditinggalkan ketika memasuki waktu salat Jumat, maka aktivitas yang tidak produktif juga semestinya ditinggalkan.

"Kalau aktivitas yang produktif selevel jual beli saja wajib untuk ditinggalkan [saat Jumat], apalagi aktivitas yang tidak produktif seperti main HP dan tidur-tiduran. Bahkan termasuk ketika mendengar Jumat tetapi main HP, alangkah baiknya kita tinggalkan," tegasnya.

Memasuki pembahasan utama, khatib menjelaskan bahwa setiap manusia akan menghadapi ujian dalam kehidupannya. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anbiya ayat 35 bahwa setiap manusia akan merasakan kematian dan diuji dengan keburukan maupun kebaikan sebagai cobaan.

Ujian tersebut dapat hadir dalam berbagai bentuk. Kesedihan dan musibah merupakan ujian, tetapi demikian pula dengan kenikmatan dan kesenangan. Bahkan, menurut H. Nasrudin, M.S.I., ujian berupa kenikmatan terkadang lebih membahayakan karena manusia sering kali tidak menyadari bahwa kelimpahan yang diterimanya merupakan bentuk ujian dari Allah SWT.

"Ujian itu bisa berbentuk kebaikan, keburukan, nikmat, maupun musibah. Dan tidak jarang seseorang yang Allah berikan ujian berupa kenikmatan malah mengantarkan dirinya kepada kebinasaan karena dianggap itu bukan ujian," ungkapnya.

Untuk memberikan gambaran mengenai manusia yang gagal menghadapi ujian kenikmatan, khatib mengangkat beberapa tokoh yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Namrud menjadi salah satu contoh sosok yang diberikan kekuasaan dalam waktu yang lama, tetapi kekuasaan tersebut justru membuatnya sombong hingga mendebat Nabi Ibrahim AS dan mengingkari keberadaan Allah SWT.

Khatib juga mencontohkan Firaun yang diberikan kekuasaan dan banyak pengikut, tetapi kesombongannya membuatnya mengaku sebagai tuhan. Sementara itu, Qarun diberikan kekayaan yang sangat melimpah, tetapi ia menganggap kekayaan tersebut semata-mata diperoleh karena ilmu dan kerja kerasnya sendiri.

Selain itu, kaum 'Ad juga menjadi contoh bagaimana kekuatan dan kemampuan yang diberikan Allah SWT dapat menjadi ujian. Mereka memiliki kekuatan fisik serta kemampuan memahat gunung menjadi rumah, tetapi kekuatan tersebut tidak menjadikan mereka tunduk dan bersyukur kepada Allah SWT sehingga mereka mendapatkan azab karena kekufuran.

Khatib menegaskan bahwa pola kesombongan tersebut dapat terus berulang meskipun pelakunya berbeda. Kisah para tokoh tersebut bukan hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi juga menjadi peringatan bagi manusia agar tidak mengulangi perilaku yang sama.

"Model kesombongan yang sama akan terus terjadi walaupun pelakunya berganti-ganti. Dulu Firaun, dulu Namrud, dulu Qarun... sekarang bisa saja yang lain, namanya beda tapi perilakunya sama," ujarnya.

Selanjutnya, khatib mengajak jemaah memahami makna zuhud secara lebih mendalam. Zuhud bukan berarti seseorang harus memiliki sedikit harta atau meninggalkan kekayaan. Zuhud merupakan amalan batin, yaitu kemampuan seseorang untuk tidak menjadikan harta sebagai pusat kehidupan dan kebahagiaannya.

"Zuhud bukanlah masalah sedikitnya harta. Zuhud adalah amalan batin, yaitu seseorang memiliki kemampuan memutuskan keterkaitan materinya dengan kondisi batinnya. Dia meletakkan harta bukan di hatinya, tapi di tangannya," jelasnya.

Khatib juga mengingatkan bahwa harta dan jabatan bukanlah puncak kenikmatan. Para nabi dan rasul yang paling dicintai Allah SWT justru menjalani kehidupan yang sederhana dan menghadapi berbagai penderitaan. Nabi Yusuf AS, misalnya, pernah mengalami berbagai ujian hingga dijual sebagai budak dan dipenjara. Begitu pula Nabi Muhammad SAW yang telah diuji sejak kecil hingga menghadapi pemboikotan di Makkah.

Pada akhirnya, H. Nasrudin, M.S.I. mengajak jemaah untuk memahami bahwa ukuran kenikmatan dalam Islam tidak selalu sama dengan ukuran kenikmatan menurut manusia. Kekayaan, kekuasaan, jabatan, dan berbagai kesenangan duniawi bukanlah satu-satunya ukuran seseorang mendapatkan nikmat dari Allah SWT.

"Nikmat di sini adalah versi Allah, bukan versi kita. Karena kebanyakan kita mengartikan nikmat adalah kekayaan, kekuasaan, jabatan, dan semua yang bernilai kesenangan. Tapi dalam pandangan Allah, orang yang diberi nikmat adalah para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin," ungkapnya.

Pemahaman tersebut sejalan dengan doa dalam Surah Al-Fatihah agar manusia senantiasa mendapatkan petunjuk menuju shirathal mustaqim, yaitu jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah SWT, bukan jalan orang-orang yang dimurkai maupun orang-orang yang sesat.

Melalui Khotbah Jumat tersebut, LP3AK UMPWR terus mendorong penguatan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di lingkungan universitas. Khotbah tersebut menjadi pengingat bagi seluruh jemaah bahwa kesulitan maupun kenikmatan sama-sama merupakan ujian yang harus dihadapi dengan ketakwaan, kesabaran, dan rasa syukur.

Sebab, kenikmatan sejati bukan sekadar memiliki harta, kekuasaan, atau jabatan, tetapi ketika Allah SWT memberikan petunjuk untuk tetap berada di jalan yang lurus. (Frh)