Purworejo – Ancaman kezaliman dan pentingnya menegakkan keadilan menjadi pesan utama dalam khotbah Jumat yang disampaikan oleh Nif’an Nazudi, M.Ag., di Masjid Universitas Muhammadiyah Purworejo pada Jumat (16/10/2026). Dalam khotbahnya, khatib mengajak jemaah untuk memahami bahwa kezaliman bukan sekadar pelanggaran terhadap hak sesama manusia, melainkan juga perbuatan yang mendatangkan ancaman serius bagi kehidupan individu maupun masyarakat.
Mengangkat tema “Ancaman Allah bagi Pelaku Kezaliman”, khatib mengingatkan bahwa Al-Qur’an telah memberikan berbagai peringatan mengenai akibat buruk kezaliman. Melalui sejumlah ayat, di antaranya QS. Al-Qasas ayat 59, QS. Al-Hajj ayat 45, dan QS. Hud ayat 117, dijelaskan bahwa kebinasaan suatu negeri berkaitan dengan perilaku zalim yang dilakukan oleh penduduknya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi umat Islam agar senantiasa menjaga keadilan, menjauhi tindakan sewenang-wenang, serta tidak membiarkan kemungkaran dan ketidakadilan berkembang di tengah masyarakat.
Kezaliman dan Dampaknya bagi Kehidupan Masyarakat
Dalam penyampaiannya, khatib mengaitkan persoalan kezaliman dengan berbagai fenomena sosial, bencana, dan persoalan penegakan hukum. Berbagai peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat, termasuk bencana kabut asap akibat kebakaran hutan serta kasus penyalahgunaan dana publik, menjadi bahan renungan tentang pentingnya tanggung jawab moral dan keadilan dalam kehidupan bersama.
Khatib juga menyoroti praktik korupsi, termasuk penyalahgunaan dana penanggulangan bencana dan bantuan sosial. Tindakan tersebut tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga mencerminkan pengabaian terhadap hak masyarakat, khususnya mereka yang membutuhkan pertolongan.
Oleh karena itu, penegakan hukum yang adil dan konsisten menjadi bagian penting dalam mencegah kezaliman. Setiap orang yang memiliki amanah, baik dalam kehidupan pribadi, pekerjaan, maupun pemerintahan, hendaknya menjalankan tanggung jawabnya dengan jujur dan tidak menyalahgunakan kewenangan.
Muslim Sejati Menjaga Keselamatan Sesama
Selain menyoroti kezaliman dalam kehidupan sosial, khatib mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan perbuatan. Ia mengutip hadis Rasulullah saw. yang berbunyi:
“Al-muslimu man salimal muslimuna min yadihi wa lisanih.”
Artinya, seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa keislaman tidak cukup diwujudkan melalui ibadah ritual, tetapi juga harus tercermin dalam perilaku sehari-hari. Seorang muslim hendaknya mampu menjaga ucapan, menghindari tindakan yang merugikan orang lain, serta menghormati hak dan martabat sesama manusia.
Dengan demikian, nilai-nilai Islam dapat hadir sebagai landasan dalam membangun kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan berkeadilan.
Syirik sebagai Bentuk Kezaliman Terbesar
Pada bagian akhir khotbah, Nif’an Nazudi menegaskan bahwa bentuk kezaliman yang paling besar adalah syirik, yaitu mempersekutukan Allah Swt. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam ajaran Islam bahwa tauhid merupakan fondasi utama keimanan seorang muslim.
Peringatan tersebut mengajak jemaah untuk senantiasa memurnikan keimanan kepada Allah Swt. dan menjadikan ajaran-Nya sebagai pedoman hidup. Keteguhan dalam bertauhid hendaknya berjalan seiring dengan komitmen untuk menjunjung tinggi keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab dalam setiap aspek kehidupan.
Khatib juga mengingatkan pentingnya perubahan yang dimulai dari diri sendiri. Upaya memperbaiki keadaan masyarakat harus diawali dengan kesediaan setiap individu untuk mengevaluasi perilaku, meninggalkan kebiasaan buruk, serta membangun kehidupan yang lebih baik sesuai tuntunan agama.
Meneguhkan Komitmen Menjauhi Kezaliman
Khotbah Jumat ini menjadi pengingat bagi seluruh jemaah bahwa kezaliman, dalam bentuk apa pun, tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele. Ketidakadilan yang dibiarkan dapat merugikan banyak pihak dan merusak kehidupan bersama.
Melalui pesan yang disampaikan, jemaah diharapkan semakin menyadari pentingnya menjaga amanah, menjauhi korupsi, menegakkan keadilan, serta memperkuat keimanan kepada Allah Swt.
Pada akhirnya, perubahan menuju kehidupan yang lebih baik membutuhkan kesadaran dan tindakan nyata dari setiap individu. Dengan memperbaiki diri, menjaga hak sesama, dan menegakkan nilai-nilai keadilan, umat Islam diharapkan mampu mewujudkan kehidupan yang lebih bermartabat serta memperoleh rida Allah Swt.
Semoga khotbah Jumat ini menjadi pengingat untuk senantiasa menjauhi kezaliman dan meneguhkan komitmen dalam menebarkan kebaikan di lingkungan kampus maupun masyarakat luas. (Frh)