Purworejo – Lembaga Pengkajian, Pendalaman, Pengamalan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LP3AK) Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) kembali menyelenggarakan Kajian Bulanan Jumat sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan bagi sivitas akademika. Kegiatan dilaksanakan pada Jumat (7/8/2026) bertempat di Ruang Seminar Kampus Timur UMPWR dengan menghadirkan Ust. Fajar Rachmadhani, Lc., M.Hum., Ph.D., selaku Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah sebagai penceramah yang menyampaikan kajian mengenai pentingnya ketakwaan kepada Allah SWT.
Dalam kajian tersebut, penceramah mengawali pembahasan dengan mengingatkan pesan Nabi Muhammad SAW kepada umat Islam untuk senantiasa bertakwa kepada Allah SWT. Takwa menjadi landasan utama dalam kehidupan seorang muslim, baik ketika berada di tengah masyarakat maupun ketika sedang berada dalam kesendirian.
"Pesan Nabi kepada kita semua: Ittaqillāha, bertakwalah kepada Allah," ungkapnya.
Penceramah kemudian menjelaskan ciri-ciri orang bertakwa berdasarkan firman Allah SWT dalam Surah Ali 'Imran. Salah satu ciri orang bertakwa adalah gemar bersedekah dan membantu orang lain, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Menurutnya, bersedekah ketika memiliki kelapangan merupakan hal yang baik, tetapi tetap mampu berbagi ketika berada dalam keterbatasan merupakan bentuk ketakwaan yang lebih tinggi.
"Kata Allah, orang yang bertakwa itu adalah orang yang gemar bersedekah, membantu orang lain, berinfak fi as-sarrā’i wa adh-dharrā’—baik dalam keadaan lapang atau dalam keadaan susah. Kalau ada orang kaya gemar berinfak itu biasa, tapi kalau ada orang yang pas-pasan tapi gemar bersedekah, ini lebih luar biasa," jelasnya.
Selain gemar bersedekah, orang bertakwa juga ditandai dengan kemampuan mengendalikan amarah. Penceramah mengingatkan bahwa kemampuan mengontrol emosi merupakan bagian penting dari ketakwaan. Ia mengambil teladan dari Rasulullah SAW ketika menghadapi kecemburuan Ibunda 'Aisyah RA di hadapan para tamu Nabi.
"Nabi cukup tersenyum mengatakan: 'Ghārat ummukut' (Tenang, ibunda kalian sedang cemburu)," tuturnya.
Ciri berikutnya adalah kemampuan memaafkan kesalahan orang lain. Menurut penceramah, memaafkan seseorang yang telah menyakiti atau menzalimi membutuhkan kelapangan hati dan merupakan tingkatan ketakwaan yang tinggi.
"Memaafkan orang lain. Kita pernah dizalimi oleh orang, disakiti oleh orang, kok kemudian kita dengan lapang dada memaafkan, itu namanya wal 'āfīna 'ani an-nās, sudah tinggi itu makamnya," ujarnya.
Lebih lanjut, penceramah mengutip pandangan Ibnu Umar RA mengenai hakikat takwa. Menurutnya, salah satu tanda orang yang bertakwa adalah tidak merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Takwa juga dapat dipahami sebagai usaha sungguh-sungguh untuk menjalankan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya.
"Takwa itu adalah ketika kita tidak pernah melihat diri kita lebih baik dari orang lain," jelasnya.
Ia kemudian mengingatkan jemaah mengenai salah satu tipu daya setan terhadap orang-orang yang telah berusaha menjauhi kemaksiatan. Ketika seseorang tidak berhasil digoda untuk melakukan dosa, setan dapat membisikkan perasaan lebih baik daripada orang lain. Sikap tersebut merupakan bentuk kesombongan yang harus diwaspadai.
"Setan itu kalau gagal membuat orang berbuat kemaksiatan, maka cara yang kedua yang dilakukan oleh setan adalah menghembuskan, membisikkan dalam diri seseorang rasa/perasaan lebih baik dari orang lain," ungkapnya.
Penceramah juga menjelaskan bahwa kesombongan menjadi salah satu sebab Iblis diusir dari surga. Iblis tidak diusir karena melakukan berbagai bentuk kemaksiatan tersebut, tetapi karena merasa dirinya lebih baik daripada Nabi Adam AS.
"Iblis itu dikeluarkan oleh Allah dari surga bukan karena dia membunuh, bukan karena dia minum khamar, bukan karena dia berzina... Kenapa Iblis kemudian diusir oleh Allah SWT dari surga? Satu ungkapan Iblis yang diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur'an: 'Anā khairun minhu' (Saya lebih baik dari dia)," jelasnya.
Dalam kajian tersebut, penceramah juga mengingatkan dua ciri kesombongan sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW, yaitu menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.
"Al-kibru batharul-haqqi wa ghamthun-nās. Dua kata Nabi ciri orang yang sombong yang tidak akan masuk surga itu: orang yang menolak kebenaran dan yang kedua adalah orang yang memandang rendah orang lain," paparnya.
Pada bagian akhir kajian, penceramah menekankan pentingnya menjaga ketakwaan di mana pun seseorang berada, termasuk ketika tidak ada orang lain yang melihat. Menurutnya, menunjukkan kebaikan di hadapan banyak orang relatif mudah, sedangkan tantangan sesungguhnya adalah tetap menjaga ketakwaan ketika berada dalam kesendirian.
"Pesan Nabi: bertakwalah kepada Allah di manapun Anda berada. Bertakwa dalam keramaian itu mudah. Menunjukkan kebaikannya, menampilkan ketakwaannya. Tantangannya adalah bisakah kita itu tetap bertakwa dalam kesendirian?" tegasnya.
Sejalan dengan hal tersebut, penceramah menjelaskan bahwa keikhlasan dapat dilihat dari konsistensi kualitas amal seseorang, baik ketika berada di tengah keramaian maupun ketika sedang sendirian. Orang yang ikhlas tidak bergantung pada penilaian, pujian, maupun pengakuan dari orang lain.
"Orang yang ikhlas itu adalah orang yang kualitas amalnya sama, mau dalam keramaian mau dalam kesendirian sama kualitas amalnya. Sederhananya, orang ikhlas itu orang yang enggak suka pencitraan, orang yang tidak butuh validasi," ujarnya.
Melalui Kajian Jumat Bulanan ini, LP3AK UMPWR berharap sivitas akademika semakin memahami hakikat takwa dan mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Takwa tidak hanya diwujudkan melalui ibadah yang tampak, tetapi juga melalui kemampuan berbagi, mengendalikan amarah, memaafkan, tidak merasa lebih baik dari orang lain, serta menjaga keikhlasan dalam setiap amal.
Kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar LP3AK UMPWR dalam memperkuat nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan melalui kajian keislaman yang rutin dan berkelanjutan bagi sivitas akademika. (Frh)