Purworejo – Musim hujan menjadi pengingat akan kebesaran dan rahmat Allah SWT. Hujan tidak hanya menjadi fenomena alam yang menyuburkan bumi, tetapi juga mengandung pelajaran tentang pentingnya rasa syukur, istighfar, dan taubat dalam kehidupan seorang Muslim. Pesan tersebut disampaikan oleh Dr. H. Iyus Herdiana Saputra, M.S.I. dalam khutbah Jumat di Masjid Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR), Jumat (30/10/2026).
Dalam khutbahnya, khatib mengajak jamaah untuk memaknai datangnya musim hujan sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah SWT. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 57, Allah SWT mengirimkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum turunnya hujan. Hujan kemudian menghidupkan bumi yang sebelumnya kering dan menjadikannya subur kembali.
Lebih lanjut, khatib mengaitkan turunnya hujan dengan pentingnya memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT. Merujuk pada Surah Nuh ayat 10–12, khatib menjelaskan bahwa istighfar dan taubat merupakan bagian penting dalam upaya seorang hamba untuk memperoleh ampunan, rahmat, dan keberkahan dari Allah SWT.
Pesan tersebut mengingatkan jamaah bahwa sebagaimana bumi yang kering membutuhkan hujan agar kembali subur, hati manusia juga membutuhkan istighfar dan taubat agar senantiasa terjaga dalam kebaikan.
“Sebagaimana bumi yang kering menjadi subur karena hujan, hati yang dipenuhi dosa membutuhkan istighfar, taubat, dan kembali kepada Allah,” menjadi pesan yang relevan untuk direnungkan dalam kehidupan sehari-hari.
Khatib juga menegaskan bahwa taubat yang sesungguhnya tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan. Taubat harus diwujudkan dengan penyesalan atas dosa yang telah dilakukan, meninggalkan perbuatan maksiat, serta memiliki tekad kuat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Apabila kesalahan berkaitan dengan hak orang lain, maka hak tersebut harus dikembalikan atau diselesaikan dengan semestinya.
Selain itu, jamaah diajak untuk senantiasa optimistis dalam menjalani kehidupan dan tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT. Sikap optimistis harus disertai dengan ikhtiar nyata, seperti bekerja keras, menjaga kejujuran, memperbanyak doa, bertawakal, dan terus memperbaiki diri.
Dalam hal rezeki, khatib mengingatkan bahwa keberkahan tidak semata-mata diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, tetapi juga dari kehalalan sumbernya, kebaikan manfaatnya, serta ketenteraman hati dalam menggunakannya. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya senantiasa berusaha memperoleh rezeki dengan cara yang halal dan menjadikan rasa syukur sebagai bagian dari kehidupannya.
Melalui khutbah Jumat ini, jamaah diharapkan semakin memahami bahwa musim hujan bukan hanya membawa manfaat bagi kehidupan di bumi, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan keimanan, memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia, serta menumbuhkan semangat dalam menjalani kehidupan.
Semoga pesan khutbah Jumat ini menjadi pengingat bagi seluruh civitas akademika Universitas Muhammadiyah Purworejo untuk senantiasa bersyukur, memperbanyak istighfar, dan menjadikan setiap kesempatan sebagai jalan untuk memperbaiki diri serta meraih keberkahan dalam kehidupan. (Frh)