Universitas Muhammadiyah Purworejo

Berita LP3AK

Lembaga Pengkajian, Pendalaman, Pengamalan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Home / Detail

Bukan Sekadar Merdeka, Tetapi Bertakwa: Pesan Khutbah Jumat Dr. H. Iyus Herdiana

Purworejo – Kemerdekaan bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap tahun, tetapi juga nikmat dan amanah besar dari Allah SWT yang perlu disyukuri dan diisi dengan amal kebaikan. Pesan tersebut disampaikan Dr. H. Iyus Herdiana Saputra, M.S.I. dalam khutbah Jumat hari ini dengan tema “Syukur Kemerdekaan: Mengisi Kemerdekaan sebagai Wujud Iman.”

Dalam khutbahnya, Dr. H. Iyus mengajak jamaah untuk memandang kemerdekaan dari perspektif keimanan. Bagi seorang mukmin, kemerdekaan tidak berhenti pada seremonial atau mengenang sejarah perjuangan bangsa, tetapi menjadi momentum untuk meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT.

“Bagi seorang mukmin, memandang kemerdekaan bukanlah sekadar peristiwa sejarah atau hanya seremonial saja. Kemerdekaan adalah sebuah amanah dan nikmat besar dari Allah SWT yang wajib disyukuri.”

Ketakwaan Menjadi Wujud Syukur

Menurut Dr. H. Iyus, salah satu bentuk nyata mensyukuri kemerdekaan adalah meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT. Hal ini menjadi penting di tengah berbagai persoalan moral dan kezaliman yang masih terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Rasa takut kepada Allah SWT, lanjutnya, perlu dimiliki oleh seluruh elemen kehidupan, baik pemimpin, pejabat, maupun masyarakat. Ketakwaan menjadi landasan agar kemerdekaan tidak disalahgunakan, tetapi diarahkan untuk menjalankan tanggung jawab dan menghadirkan kemaslahatan.

“Saat ini krisis rasa takut. Para pemimpin, para pejabat, dan para pemangku kepentingan sudah tidak takut kepada Allah, bahkan rakyatnya pun krisis rasa takut. Padahal yang diperintahkan adalah ittaqullah, bertakwalah dan takutlah kepada Allah.”

Memperkuat Persatuan di Tengah Perbedaan

Selain ketakwaan, Dr. H. Iyus menekankan pentingnya menjaga persatuan dan ukhuwah. Perbedaan pandangan atau ikhtilaf merupakan sesuatu yang wajar dan menjadi bagian dari sunnatullah. Namun, perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling berpecah belah.

“Perbedaan itu diperbolehkan, ikhtilaf itu boleh dan merupakan sunnatullah. Yang tidak diperbolehkan adalah berpecah belah dan bercerai-berai. Perbedaan yang disatukan justru akan menjadi kekuatan bangsa.”

Dalam konteks kemerdekaan, persatuan menjadi modal penting dalam membangun bangsa. Perbedaan yang dikelola dengan baik justru dapat menjadi kekuatan untuk mencapai tujuan bersama.

Mengisi Kemerdekaan dengan Amal Kebajikan

Wujud syukur berikutnya adalah memperbanyak amal kebajikan dan menghasilkan karya positif yang bermanfaat. Dr. H. Iyus mengaitkannya dengan konsep hayatan thayyibah atau kehidupan yang baik.

Mengutip pandangan Imam Al-Qurthubi, kehidupan yang baik dapat diwujudkan melalui rezeki yang halal, sifat qana'ah atau merasa cukup dan bersyukur, serta taufik untuk senantiasa taat beribadah kepada Allah SWT.

“Kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) digapai dengan rezeki yang halal dan sifat qana'ah. Harta yang halal menenteramkan batin, menjauhkan dari gaya hidup hedonis dan perang batin.”

Meneladani Rasulullah SAW

Momentum kemerdekaan juga beriringan dengan bulan Rabiul Awwal atau bulan Maulid. Karena itu, jamaah diajak menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam menjalani kehidupan, baik dalam kepemimpinan, kehidupan keluarga, maupun dalam membangun kehidupan bermasyarakat.

Keteladanan Rasulullah SAW menjadi relevan dalam mengisi kemerdekaan karena kemerdekaan membutuhkan pribadi-pribadi yang memiliki akhlak, tanggung jawab, kepedulian, dan komitmen untuk menghadirkan kebaikan bagi sesama.

Khutbah tersebut menjadi pengingat bahwa mensyukuri kemerdekaan merupakan bagian dari upaya mewujudkan iman dalam kehidupan nyata. Kemerdekaan dapat diisi dengan meningkatkan ketakwaan, menjaga persatuan, memperbanyak amal kebajikan, serta meneladani akhlak Rasulullah SAW.

Dengan demikian, kemerdekaan tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga menjadi kesempatan untuk terus berkarya, menjaga persatuan, dan membangun kehidupan yang lebih baik sebagai wujud syukur kepada Allah SWT. (Frh)