Purworejo – Menjaga persatuan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah menjadi pesan utama dalam Khotbah Jumat yang disampaikan oleh Dr. Hermawan, M.Pd.I. di Masjid Kampus Universitas Muhammadiyah Purworejo pada Jumat (4/9/2026). Dalam khotbahnya, ia mengajak jamaah untuk mengikis berbagai bentuk perselisihan serta membangun persaudaraan yang dilandasi nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah.
Mengawali khotbah, khatib mengingatkan jamaah tentang pentingnya berpegang teguh kepada ajaran Allah SWT dan tidak terpecah belah. Pesan tersebut merujuk pada firman Allah SWT dalam QS. Ali ‘Imran ayat 103:
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعً۠ا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦ إِخْوَٰنًا
“Dan berpegangteguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah secara keseluruhan, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah menyatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara.”
Dalam penjelasannya, Dr. Hermawan menguraikan latar belakang turunnya ayat tersebut yang berkaitan dengan perselisihan antara suku ‘Aus dan Khazraj di Madinah. Kedua kelompok tersebut sebelumnya terlibat dalam permusuhan yang panjang dan saling membanggakan kelompok masing-masing. Namun, Islam dan dakwah Rasulullah SAW menjadi jalan yang menyatukan mereka sehingga permusuhan berubah menjadi persaudaraan.
Dari ayat tersebut, terdapat sejumlah pelajaran penting dalam membangun persatuan umat. Pertama, berpegang teguh pada tali Allah sebagaimana pesan “Wa'tasimu bihablillahi jami'a”. Khatib menjelaskan bahwa menurut tafsir Ibnu Katsir, tali Allah yang dimaksud berkaitan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Karena itu, persatuan hendaknya dibangun di atas kebenaran agama, bukan berdasarkan kepentingan kelompok, egoisme, maupun kesalahpahaman.
Kedua, menata dan menjaga hati. Persatuan tidak hanya dibangun melalui kebersamaan secara fisik, tetapi juga berawal dari kebersihan hati. Jamaah diingatkan untuk menjauhi sifat dengki, hasad, dendam, dan gibah terhadap sesama muslim. Sebab, kebersamaan dalam satu masjid dan satu saf belum cukup apabila hati masih dipenuhi rasa tidak suka dan permusuhan kepada sesama.
Ketiga, mengingat nikmat persaudaraan. Khatib mengajak jamaah untuk memperbanyak mengingat berbagai nikmat yang lahir dari ukhuwah dan kebersamaan. Kebersamaan dalam beribadah, berdakwah, menjalankan ibadah puasa, hingga menunaikan ibadah haji merupakan pengalaman yang dapat mempererat hubungan antarsesama umat Islam.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa persatuan merupakan nikmat Allah SWT yang harus dijaga bersama. Perbedaan yang ada di tengah umat semestinya tidak menjadi alasan untuk saling bermusuhan, melainkan menjadi ruang untuk membangun kehidupan yang lebih harmonis dengan tetap berpegang pada ajaran Islam.
Melalui Khotbah Jumat tersebut, jamaah diajak untuk tidak hanya memahami pentingnya persatuan secara konsep, tetapi juga mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga lisan, membersihkan hati, menghindari perselisihan, serta memperkuat kepedulian kepada sesama menjadi bagian dari upaya nyata menjaga ukhuwah Islamiyah. (Frh)